Tak ada buku tanpa
tulisan. Dan tak ada tulisan tanpa penulis. Rasanya tak ada
yang salah dengan kalimat yang sengaja saya jadikan pembuka dalam tulisan kali
ini. Tentang buku dan juga penulis. Ya, karena memang tak terpungkiri bahwa
keduanya merupakan rangkaian yang saling berikatan dan menguatkan. Mereka bak
siklus yang saling menopang satu sama lain. Memutuskan satu rantai hanya akan
merusak keberlanjutan siklus. Percayalah ,sampai kapanpun buku akan membutuhkan
seorang penulis untuk mengisinya. Dan penulis akan membutuhkan buku untuk
menuangkan buah pikirannya.
Dulu, jihad perang padukan kita.
Sekarang, negeri aman malah hancurkan kita.
Dulu, perbedaan itu anugerah.
Sekarang, perbedaan bencana dan nestapa.
Dulu, sedikit kita kuat.
Sekarang, banyak kita lemah.
Dulu, cinta selimuti seiman.
Sekarang ?
Ini kau debat, ini kau debat.
Itu kau hujat, itu kau hujat.
Saudara sediri diembat.
Fitnah setiap saat.
Semua nak kau sikat, padahal kita ini satu umat.
Kapan kita akan duduk bersama dengn tangan berlipat ?!
Kapan kita berjalan bersama menuju selamat ?!
Sudahlah membabat, kita ini seumat !
Hentikan gerogotan, kita ini seumat !
Gimana mau kuat jika sikit sikit bergelut !
Gimana mau sehat jika sebentar bentar bergulat !
Ah,Tak liatkah siapa yang kau hujat ?!
Tak sadarkah siapa yang kau gulat ?!
Sadarlah ini tak ada manfaat !
Sadarlah, ini banyak mudharat !
Sekarang, negeri aman malah hancurkan kita.
Dulu, perbedaan itu anugerah.
Sekarang, perbedaan bencana dan nestapa.
Dulu, sedikit kita kuat.
Sekarang, banyak kita lemah.
Dulu, cinta selimuti seiman.
Sekarang ?
Ini kau debat, ini kau debat.
Itu kau hujat, itu kau hujat.
Saudara sediri diembat.
Fitnah setiap saat.
Semua nak kau sikat, padahal kita ini satu umat.
Kapan kita akan duduk bersama dengn tangan berlipat ?!
Kapan kita berjalan bersama menuju selamat ?!
Sudahlah membabat, kita ini seumat !
Hentikan gerogotan, kita ini seumat !
Gimana mau kuat jika sikit sikit bergelut !
Gimana mau sehat jika sebentar bentar bergulat !
Ah,Tak liatkah siapa yang kau hujat ?!
Tak sadarkah siapa yang kau gulat ?!
Sadarlah ini tak ada manfaat !
Sadarlah, ini banyak mudharat !
Mengingat
akan datangnya masa pemilihan pemimpin 5 tahun mendatang di Indonesia, diri
tertarik untuk sedikit mengekspresikan apa yang dipahami terkait dengan agenda
5 tahunan ini . Mungkin tulisan ini akan dipandang sinis oleh sebagian
kelompok. Dan mungkin juga akan ada yang menganggap paragraph demi paragraph
yang ditulis ialah kata kata tolol yang begitu memuakkan dan menyakitkan mata.
Mungkin juga tulisan ini akan terasa kontroversial. Ntahlah, diluar segala
anggapan itu semua, aku sampaikan bahwa ianya bukanlah suatu penilaian terhadap
suatu haraqah atau pergerakan. Bukan juga bukan tentang upaya men”judge”
kalangan kalangan tertentu. Mungkin ini
demi kita dan Negara. Maybe ~
Tak
ada yang lebih menakutkan dan menggetarkan hati selain membahas tentang pemutus
kehidupan. Pemberhentian pengabdian seorang hamba menuju pembalasan atas abdi
yang diberi semasa berkelana didunia. Sebuah Pintu menuju gerbang kehidupan
kekal dan abadi . Pintu yang menghubungkan dunia kini ke Ruang tak terbayangkan
yang sudah lama menunggu untuk ditempati. Ntah ianya tempat yang menyenangkan
hati dan menyedapkan mata, Atau malah tempat derita yang penuh dengan balasan siksa
akibat durhaka pada-Nya.
19 Januari 1014. Setiap orang punya cara pandang
tersendiri mengenai amanah. Ada yang menganggap ianya sesuatu yang menakutkan,
namun ada juga yang berburu untuk mendapatkan. Ada yang takut menerimanya
lantaran takut tergolong pribadi yang munafik (jika tak menjalankan dengan baik),
namun ada juga yang berlomba-lomba untuk meraih jabatan dan akhirnya mendapatkan
amanah .
Pengalaman adalah guru kehidupan
yang paling berharga. Guru yang mengajarkan segala hikmah yang tersingkap
dibalik tabir kisah nyata yang kita jalani sehari hari. Ntah itu cerita tentang
kebaikan, atau mungkin cerita keburukan. Bisa terdapat dikisah suka, maupun dikisah
duka. Semuanya selalu mengandung berbagai pelajaran yang tersirat ataupun yang
terlihat langsung. Membekas kuat di ingatan karena memang ini dialami diri kita
sendiri. Mengikat kuat di pikiran karena memang kita sendirilah yang terjun
langsung melewatinya. Dan setiap kita tentunya telah melalui banyak kisah yang
telah menjadi pengalaman hidup. Setiap kitapun berbeda beda cara dalam
melewatinya. Tentunya kisah yang berbeda beda ini melahirkan
pengalaman yang berbeda pula.
Langganan:
Postingan (Atom)






- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact