Rabu, 20 Mei 2015 1 komentar

Mungkin, Dunia Merindukan Kita




Jika aku boleh merindu, maka yang kurindukan adalah pemuda pemuda yang besar cintanya pada agama ini. Pemuda yang memiliki ruh semangat untuk membesarkan syiar islam dengan kesungguhan yang terpatri didadanya . Pemuda yang kokoh aqidahnya, indah akhlaknya dan baik tuturnya . Bukan yang tak serius dan masih senang bermain main dengan kefanaan dunianya.


Jika aku boleh merindu, maka yang kurindukan adalah pemuda yang besar kecintaannya pada umat (islam) ini. Bahkan cinta ini mendarah daging hingga menjadikan umat ini bagian yang satu atas tubuh mereka sendiri. Jika aku boleh merindu, maka aku merindukan mereka. Yang pikirnya untuk besarkan syiar islam, yang waktunya diwakafkan untuk umat dan yang jiwanya di didedikasikan untuk Islam. Agama yang rahmatan lil ‘alamin ini.


Jika aku boleh merindu, maka yang kurindukan adalah seluruh penjuru tubuhku penuh dengan ketaatan makhluk akan Penciptanya, pengabdian makhluk atas Rabbnya, kesetiaan cinta makhluk pada Dzat yang mencintainya.


Jika rindu adalah harap, dan harapku terdengarkan. Maka kerinduan terbesarku adalah kehadiran pemuda pemuda yang pernah ada dulu menempati tubuhku. Pemuda yang dengan kokohnya berucap ‘Ahad’ atas siksa yang diterimanya dibawah terik matahari dan panasnya daratan. Pemuda yang dengan kesungguhannya meninggalkan harta yang berada digenggamannya , karena kecintaannya yang murni pada Rabbnya. Pemuda yang tangannya ringan menderma untuk menolong agama-Nya. Pemuda yang tegap dan berani melawan bathil secara terang terangan.


Jika rindu adalah harap, dan harapku terdengarkan . Maka , kerinduan terbesarku adalah mereka segera datang untuk mengobati rindu ini. Mereka segera ada untuk kembali membesarkan agama ini. Dengan kesungguhannya, dengan kokohnya aqidahnya, dan dengan waktu yang di wakafkan untuk kemaslahatan umat ini.


Jika rindu adalah harap, dan harapku sebagai dunia terdengarkan. Maka , aku adalah dunia. Dan ini kerinduanku .


(Aku = Dunia)
*Kata aku disini mengambarkan dunia.


Jumat, 03 April 2015 0 komentar

Bagaimana cara kita mati ?


“Dan tiadalah kehidupan dunia Ini melainkan senda gurau dan main-main. dan Sesungguhnya akhirat Itulah yang Sebenarnya kehidupan, kalau mereka Mengetahui”. (Al 'Ankabuut:64)

~~~

Kematian adalah pelajaran terbaik .Tak ada yang luput dari penjemputannya. Dunia dan kefanaan nantinya pasti akan meninggalkan kita dan hidup kita. Sang musafir akhirnya harus melanjutkan perjalanan menuju akhir. Menyenangkan atau bahkan mengerikan tak ada yang kita tau . Hasil tergantung bekal yang kita bawa, ketakwaan yang terpatri di dada, dan pengabdian total sebagai seorang hamba. Harta tak akan membersamai, jabatan akan terpisah. Hanya amal yang akan menerangi disaat tak ada cahaya yang bisa menyinari.

Setiap kita pastinya akan menjumpai kematian. Kepastiannya mutlak . Hanya waktu penjemputan yang masih gaib. Ia mengintai siapapun, tak pandang umur dan tak lihat dimanapun kita berada. Waktu sedetikpun tak dapat kita majukan dan sedetikpun tak bisa ditangguhkan waktunya. Akhir akan datang tepat waktu . Dan sudah sejauh ini kita hidup, apa yang sudah kita beri ? Sudahkah perbekalan yang kita kumpulkan hari ini mencukupi ?  Sudahkah kita berkontribusi untuk menyebarkan risalah para nabi ? Dan sudahkah kita menebar kebaikan kepada penduduk bumi?

Atau ..

Selama nafas diberi, tak ada bekal yang kita kumpulkan. Tak ada amal yang kita lakukan. Tak ada ketaatan dan pengabdian yang kita tunjukkan . Tak ada kebaikan yang kita sebarkan. Yang manakah kita ? 

Bagaimana cara kita menjemput kepastian akan kematian jika hari ini kita masih disibukkan dengan dunia kita, menumpuk harta dan mengejar tahta ? 

Bagaimana cara kita menjemput kematian yang akan datang jika hari ini kita tak henti henti membangkang perintah-Nya , kasar terhadap makhluk, dan tak sedikitpun kebaikan yang kita sebar ?

Maka, perhatikanlah terhadap sikap congkak kita . Dunia yang pasti berakhir tapi kita masih saja mengutamakannya. Harta yang pasti kita tinggalkan tapi kita terus menumpuknya. Jabatan yang tak selama disandang terus kita kejar, sikut sana sikut sini , padahal ia pun kita tau tak akan membersamai kita.

Perhatikanlah sikap acuh kita, kematian yang pasti akan datang sudah sejauh mana kita persiapkan? Hidup yang akan berakhir sudah sebanyak apa memberikan kebaikan ? Sudah sebesar mana ketaatan dan pengabdian kita tunjukkan ? 

Maka di usia yang terus berjalan, pikirkanlah , apa bekal yang akan kita bawa ? amal apa yang bisa kita unggulkan ? Bukankah sebaik baik mati ialah membawa bekal . Dan sebaik baik bekal adalah ketakwaan . ?

Untuk hari hari yang kita lalui, kontribusi apa yang telah kita beri bagi agama ? Kebaikan apa yang telah kita sebar untuk umat ? Bukankah kebaikan adalah bekal . Dan bekal kebaikan akan menyelamatkan ?

Penentu keberhasilan hidup kita didunia tak tergantung besarnya harta yang kita kumpulkan dan tinggi jabatan yang kita sandang. Tapi, kesuksesan terbesar adalah ketika bekal yang kita telah siapkan mampu jauhkan kita dari cengkraman neraka dan hantarkan kita ke Surga-Nya .

Allah swt berfirman :
"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. dan Sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, Maka sungguh ia telah SUKSES. kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan".( Ali 'Imran:185).

Karena kita pasti mati , bagaimana cara kita menjemput kematian ? Diposisi khusnul khotimah atau malah su'ul khotimah ? Mati dalam keadaan terbaik atau justru dalam keadaan terburuk ? #TanyakDiri

Karena kita pasti mati, mempersiapkan bekal amal tentunya akan menyelamatkan. Menikmati setiap pengabdian tentunya sangat menentramkan. Tentramkan hati didunia , dan tentramkan kehidupan di akhirat. #TanyakDiri

Sudah sejauh ini kita hidup, ketaatan apa yang kita beri hingga layak menjadikan kita para pemenang di akhirat nanti ? Sudah selama ini kita hidup, sudahkan kemenangan yang kita inginkan kita realisasikan dalam tindak tanduk perilaku kita ? Atau hanya sebatas angan angan kosong tanpa ada wujud realisasi nyata ? #Tanyak Diri

Kemenangan akhir bukan hanya harapan kosong yang tak perlu pembuktian. Ia ada untuk diraih dengan sejuta asa yang kita tunjukkan. Ia ada untuk kita gapai dengan langkah kaki yang kita ikhlaskan untuk-Nya. Maka, masih seriuskah kita menyiapkan bekal ?

Tanyakan pada diri. Semoga kita lekas sadar dari tidur panjang kita dan mulai bangkit untuk terus membenahi diri. 

Semangat berbakti kawan. Selamat menikmati pengabdian sampai mati :)

"Dan barang siapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, Maka mereka adalah orang- orang yang mendapat kemenangan".(An-Nuur:52)



Selasa, 27 Januari 2015 1 komentar

Hidup kita cuman didunia ?

Coba pikirkan .

Jika ada yang ingin kita selesaikan dalam setiap harinya, maka itu seringkali hanya sebatas dunia kita. Menyiapkan tugas, tuntaskan pekerjaan , menyelesaikan film  terbaru , menghabiskan buku buku pelajaran jika ujian adalah sebagian rentetan kecil kegiatan yang kadang menyita waktu hari hari kita untuk diselesaikan. Tak perduli suka ataupun tidak, rangkaian ini tetap akan kita lakukan . Dan segala upaya ini adalah rutinitas dunia kita yang sering kita kerjakan

Jika ada hal yang ingin kita datangi dalam tiap minggu atau tiap bulannya, maka seringkali itu juga hanya sebatas dunia kita. Nongrong sana nongkrong sini, liburan sana liburan sini. Dan ini hanya sebagian hal kecil yang selalu kita lakukan disetiap minggu ataupun bulannya. Tak perduli besar kecil pengeluaran, ada atau pas pasan , tetap saja kesenangan ini tetap kita lakukan. Walaupun berselang itu, kantong kering tak bersisa . 

Jika ada target yang ingin kita selesaikan disetiap tahunnya, maka hal itu seringkali hanya tentang dunia kita. Bahkan, catatan catatan keberhasilan yang bisa kita lihat dipenghujung tahun, kadang tak lebih hanya sebatas capaian capaian dunia saja. Dan lagi lagi , ini hanya tentang dunia kita saja.

Beginilah kita pada umumnya. Seolah olah hidup didunia hanya lah ttg dunia saja. Hanyalah tentang mengisinya dengan rutinitas rutinitas keduniaan. Seperti hidup tak akan berakhir dan diri tak kan kembali .

Mengherankan ..

Terkadang Ketidak kekalan dunia mampu buat kita berupaya lebih. Sedangkan kekekalan di akhirat tak mampu buat kita serius berupaya ?

Untuk Dunia dengan kesemuanya mampu kita lakukan sedangkan untuk akhirat dengan kepastian nya tak mampu kita berbuat ?

Maka , ada hal yang tak cukup tau untuk menyelesaikan ini. Ada hal yang tak cukup paham, jika tak ada realisasi atas segala kepahaman ini.

Bahwa hidup tak hanya tentang dunia. Dunia yang kita tau akan berakhir, dan akhirat yang kita paham akan datang. Maka bentuk ketahuan ini bukan hanya tentang pemahaman di akal aja, melainkan melahirkan perilaku atas segala pemahaman ini.

Hal yang tertanam di akal, hanya tetap diakal jika tak ditampakkan lewat indera . Betah terhadap rangkaian dunia , namun tak betah dalam rangkaian agama dan ketaatan . Nah, kita tau atau tidak ?

Apa susahnya jika ditiap harinya ada ketaatan yang kita lakukan . Apa susahnya jika di tiap harinya  pengabdian yang kita tunjukkan. Dirikan 5 waktu, berinteraksi dengan al Qur'an . Apa susahnya jika tugas tugas kita mampu dikerjakan, baca dan update status di media sosial mampu kita  dilakukan ? Bukankah kita tau hidup tak hanya didunia ?

Apa susahnya jika tiap minggu nya bawa diri dan ruhani datang ke kajian keislaman. Beri makan ruhani yang mungkin lapar karena tak pernah dimasuki nasehat nasehat pemotivasi ? Apa susahnya datang mentoring, jika ditiap minggu nya kita bisa kumpul sana kumpul sini, nongkrong sana nongkrong sini? Apa susahnya berikan waktu khusus charge ruhani ini, jika charge pikiran bisa kita lakukan di tiap bulannya dengan liburan disana sini ?
Bukankah kita tau hidup tak hanya didunia dan ia akan berakhir ?

Apa susahnya jika di tiap tahunnya ada target besar akhirat mampu kita raih . Jika pendapat para ahli barat mampu kuasai otak dan pemahaman ini , mampu diingat dan diucapakan dengan fasih, maka apa susahnya jika kita beri otak ini kenikmatan dengan menjaga beberapa firman-Nya? Apa susahnya untuk kerjakan misi akhirat , jika pengetahuan tentang batasan dunia telah tertancap di kepala. Bukankah kita tau hidup tak hanya didunia dan akhirat pasti datang ? Lantas kenapa masih hanya tentang dunia saja? Nah, kita ini sebenarnya tau atau tidak ? Paham atau tidak ?

Ini masih rangkaian kecil hal akhirat yang bisa kita lakukan. Tampak kecil namun susah dilakukan. Bahkan kadang kita seolah olah berani menentang-Nya secara nyata dengan gampangnya tinggalkan kewajiban lima waktu. Seolah olah jadi pembenci hal hal agama dengan ribuan alasan yang kita hadirkan untuk tidak hadir dalam majelis ilmu. Dan seolah olah tak ingin membersamai Firman-Nya didalam pikiran dan hati kita .

Masih banyak lagi hal yang bisa kita tunjukkan dan abdikan . Dan sekali lagi , tak cukup hanya dengan tau untuk selesaikan ini.
Bergerak lah dan lakukanlah ketaatan. Jadikan lah hamba yang mengabdi selama umur masih diberi.

Karena hidup kita tak hanya didunia, maka jangan lupakan persiapan untuk akhirat kita. Persiapan yang hanya bisa dikumpulkan saat kita masih didunia ini . Jangan sampai kita menjadi seperti sekelompok orang yang akan menyesal ketika peradilan akhirat telah tiba. Merengek rengek kepada Allah untuk kembali kedunia ini. Hal yang tidak mungkin kita lakukan ketika kita sudah ijakkan kaki diakhirat .

Persiapkanlah akhirat kita , karena hidup tak hanya tentang dunia :)

"Wahai Rabb kami keluarkanlah kami daripadanya (dan kembalikanlah kami kedunia), maka jika kami kembali (juga kepada kekafiran), maka kami termasuk orang yang zhalim" (Al-Mukminam : 107)

Kamis, 22 Januari 2015 0 komentar

Karena Kita Bukan PEMIMPI


Pernah bermimpi ? Harap ? Cita cita ?

Setiap kita tentunya pernah bermimpi, berharap dan punya cita cita. Wajar. Mengingat kita adalah makhluk yang selalu dipenuhi harap. 1 Mimpi terealisasi , mimpi lain pun hadir. Tak akan pernah ada kepuasan, karena umumnya begitulah kita , manusia.

Siapa yang tak punya mimpi ? Bahkan anak kecilpun punya itu. Dokter, polisi, pilot mungkin adalah cita cita terlaris waktu kita kecil dulu. Dan sekarang lihatlah kita ? Sudahkah menuju ? atau malah telah mengganti cita ?

Untuk mereka yang hari ini telah menuju cita kecil nya waktu dulu, maka hakikatnya mereka sedang menuju mimpi mereka. Mempersiapkan langkah langkah kecil yang perlahan lahan akan sampaikan mereka berada dipuncak merengkuh mimpi. Semangatlah, karena jalan kalian semakin dekat :)
Sabtu, 03 Januari 2015 0 komentar

Dari membaca dan mendengar, Aku rindu ~

12 Rabiul Awal ..

Aku pernah membaca :
Hari ini kau dilahirkan.
Kemuliaan telah hadir tuk selimuti bumi.
Yg bawa cahaya tuk sirnakan kegelapan.
Yg kn Hancurkan kekufuran tuk ciptakan rasa ketauhidan.

Aku pernah membaca :
Parasnya tampan.
Lisannya penyayang.
Pribadinya menyejukkan. Menentramkan.

Aku pernah baca :
Ia pemerhati semua insan.
Inginkan keselamatan kita.
Keselamatan akhir di akhiratmu.
Dan jga keselamatan awl diduniamu.
Yang dukamu pedih baginya,
pilumu sayat hatinya.
Dan deritamu tk prnh diinginknnya .

Aku pernah baca :
Hidupnya tak mudah.
Dihina sana dihina sini.
Di lempar sana dilempar sini.
Tubuh luka berlumur darah.

Namun,Yang aku dengar :
Kau lempar senyum sana senyum sini.
Memanjat doa ke penggenggam hati .
Agar nnti lahir org org yg perdulikan agama ini dikemudian hari.

Ya.
Dari membaca aku tau ttgmu.
Dari mendengar aku mengenal ttgmu.
Hnya saja, mmbca dn mndgr buat ku rindu .

Membca dn mndengar buat ku rindu ..
Ingin bertemu..
Layaknya sahabat yg hidup bersamamu..

Ingin mendekap ..
Layaknya sahabat , yg mendekapmu di hari hri sblm penjemputanmu ..

Ya .
Dari membaca aku mengenal mu .
Dari mendengar aku tau ttgmu
Dan aku pernah baca :

"Aku merindukan saudaraku. Yg hidup stelah ku dn tk prnh bertatap muka, nmun mreka beriman kpadaku ."

Aku pernah baca ..
"Ummati ummati ummati "
Terlontar di lisan lembutmu

Ya . Aku mencintaimu.
Smga ruhku mmpu mnemui mu di akhir nnti .
Selamanya, mmbersamaimu ..

Senin, 22 Desember 2014 2 komentar

Masih inginkah kita disini ? :)

Coba sejenak pikirkan . Kenapa hari ini kita berada disini ? Masuk kedalam lingkungan (islami) yg mencintai kebaikan dan mengajak diri untuk terus memperbaiki diri ? Bukankah diluar sana juga banyak lingkungan yg sama atau bahkan lebih menarik daripada lingkungan ini ? Lantas , knapa kita juga masih disini ?

Pikirkanlah juga . Kenapa hri ini kita melakukan ini ? Kesana kemari, pindah sana pindah sini. Berlelah lelah ciptakan acara untuk mendapatkan ikhwan serta akhwat untuk melanjutkan perjuangan ini ? Bukankah di saat yg sama kita juga punya pilihan untuk tak terlibat sama sekali? Bersantai santai ria dirumah, nonton film terbaru , online atau bahkan tidur ? Bukankah aktivitas itu tak melelahkan dibandingkan harus mondar mandir mikir ini mikir itu untuk cari penerus ? Lantas, knapa kita masih melakukannya sampai skrg ?

Coba sejenak pikirkan . Kenapa kita mesti repot mengurusi ini ? Menggunakan waktu waktu kita hnya untuk memikirkan org lain dan umat ini. Bukankah saat ini, kita juga bisa memikirkan diri kita sendiri ? Bukankah kita bisa mementingkan diri kita sndiri dibandingkan mereka dgn sgala kepentingannya ? Lantas, kenapa kita masih juga ingin memikirkannya sampai sekarang ? Menyusun strategi agar wujud madani tampak dilingkungan negeri ?

Maka, Berkacalah disisa sisa semangatmu yg mulai surut, untuk apa kita disini dn mengapa kita disini . Tanyakan pada diri sendiri dan jawablah. Agar masa surut lekas berganti dgn pasang yg tak lagi kenal surut. Agar redup berganti kobar yg menyala nyala. Karena sampai kita disini tentu karena kita punya semangat itu dulu (di awal) . Semangat untuk terus dan terus memperbaiki diri. Iyakan ?

Berkacalah di sisa sisa waktu yg telah terporsir untuk dunia kita . Untuk apa kita disini dan mengapa kita harus gunakan waktu kita untuk org lain ? Bukankah mereka juga punya jatah waktu sndiri tiap harinya ? Lantas , knapa kita mesti pikirkan kondisi kita dan umat ini ? Tanyakan pada dirimu dan jawablah. Agar ego dan dunia tk bsa kuasai semua waktu kita. Agar kita bsa memberikan segala ide untuk terus memikirkan dan berjalan disini dalam waktu terbaik yg telah kita khususkan. Bukan diwaktu waktu luang sisa porsiran dunia kita. Tapi, waktu terbaik. Bkn waktu sisa ..

Berkacalah disisa sisa waktu malammu. Tanyakan sendiri dan jawablah sendiri. Bukankah kita sendirilah yg lebih mengenal diri kita sndiri ? Tanyakanlah segera dan jawablah dengan sungguh sungguh !

Hari ini, mgkin kita bsa dibilang adalah kaum pengganti. Manusia yg hadir untuk menggantikan manusia masa lalu karena dulunya mereka lalai dalam memanfaatkan kesempatan ini. Ya. Mgkin hri ini kita pengganti.
Tapi besok dan seterusnya , belum tentu sama . Tidak selamanya pengganti akan terus mengganti jika ia lalai . Tidak seterusnya pengganti akan menggantikan jika ia tak sungguh sungguh dlm menempati barisan ini !

Ingatlah, menjadi pengganti bukan berarti tak bisa tergantikan. Hari ini menggantikan, besok belum tentu lagi. Karena boleh jadi, sekarang telah berjejer dibelakang kita org org yg siap menggantikan dan mengemban tugas ini . Mereka yg siap melanjutkan dgn sungguh sungguh apa apa yg mereka yakini . Dan ini bukan hanya ttg "digantikan kembali", tapi juga ttg kerugian besar akibat tak mampu maksimalkan penempatan awal ini !

"Dan jika kamu berpaling.niscaya allah akan mengganti(mu) dengan kaum yg lain. Dan mereka tidak seperti(mu) ini" (QS. Muhammad :38)

Hari ini kita diletakkan disini bukan peletakan biasa. Semuanya terstruktur dan terencana jauh jauh hari sblum kita melihat langit bumi. Maka ingatlah bahwa, kehadiran kita disini sepenuhnya adalah karena peletakkan kita disini oleh-Nya.  Bagaimana mgkin kita disini jika Allah tak hendaki kita disini ? Bagaimana mgkin kita bersama dakwah , jika Allah tak letakkan kita disini ?

Lantas , hrus bagaimana lgi ? Hruskah kita sia siakan kesempatan yg diberikan oleh-Nya dengan kelalaian kelalaian kita ? Jika tak ingin bersama jalan dakwah, maka kita ingin dengan siapa ??

Dan terakhir ,
Disisa sisa kesadaran dan cahaya yg masih ada , kembali tanyakan pada diri kita dan jawablah kembali .

Masih inginkah kita disini ? :)

Kamis, 18 Desember 2014 0 komentar

Lomba yang 'terlupakan'

Mengawali kata dengan lomba, mgkin yg terbayang dipikiran kita adalah mengenai serangkaian kompetisi. Tournament yg disajikan untuk mengetahui siapa yg mampu menyelesaikan pertandingan dan menjadi nomor 1. Seorang pemenang yang berhasil menyeleksi banyak peserta dan menduduki puncak tertinggi sbuah perlombaan.

Lomba memang identik dengan kompetesi. Kompetisi  menghadirkan seorang pemenang. Dan pemenang akan meraih puncak tertinggi.

Untuk sampai ke barisan terdepan, tentunya yang perlu kita lakukan adalah berusaha melebihi mereka yg sdg mengejar dibelakang. Hrus Melangkah lebih banyak dari mereka yg tertinggal. Dan harus punya Tekad lebih besar dripada mereka yang ingin menyusul . Kita tak akan bisa jadi pemenang jika kita tak didepan. Tak kan bisa meraih puncak jika kita selalu belakangan. Dan tak akan bisa juara , jika kita diposisi akhir.Tidak mungkin !

Lomba akan menyeret kita pada hawa persaingan. Dan dalam persaingan ini, hanya ada yang menang dan kalah. Didepan atau dibelakang. Duluan atau tertinggal.

Dalam lomba, ada semangat yang harus dilibatkan. Tekad yg hrus terus dikobarkan. Agar saat peluang kemenangan terbuka, kita bsa ambil dulu dibandingkan mereka. Langsung sikat dan tak tunggu lama lama .

Namun, kali ini bukan tentang lomba yang mgkin sering disiarkan. Bukan juga tentang kompetisi liga liga yang selalu diperjuangkan. Lomba ini bukanlah lomba seperti itu. Karena perlombaan ini senyap dari hiruk pikuk perbincangan. Bahkan kadang kitapun terlupa bahwa ianya adalah perlombaan. Kompetisi yang tak berasa kompetisi. Mungkin lebih tepatnya ini adalah tentang lomba yang terlupakan.

Sejenak kuharap , aku dan kalian (kita semua) benar benar fokuskan pikiran agar lomba ini mampu menancap kuat di hati kita . Tertancap agar senantiasa mampu kita ingat. Hingga , ini nantinya akan jadi kompetisi yang benar benar kompetisi. Lomba yang benar benar lomba. Karena , kuharap setelah ini, ianya bukanlah lgi lomba yang terlupakan . Karena , setiap kita punya jiwa kompetisi untuk selalu memenangkannya .

Lomba yang terlupakan ini adalah tentang berlomba lomba dalam berbuat kebaikan. Tentang bagaimana cara kita bersegera dalam melakukan amal amal sholeh. Melahap habis setiap peluang kebaikan yang ada tanpa sisa sedikitpun. Melangkah lebih dulu tanpa komando apapun, dan selalu ingin digarda terdepan, diposisi awal pemulai kebaikan .

Dan nampaknya, inilah yang mulai kita lupakan. Untuk senantiasa berlomba dalam mengerjakan kebaikan. Hingga ruh ruh kita pun tak punya semangat kompetitif untuk tuntaskan segala peluang amal kebaikan lebih dulu. (Saya ulangi) , lebih dulu . Bukan belakangan !

Jika ini fakta yg terjadi, jangan heran jika jiwa cenderung acuh terhadap panggilan kebaikan. Jangan heran jika kita santai oleh ajakan ajakan untuk segera beramal. Karena, saat ini, kita seolah melupakan dan kehilangan ruh untuk berfastabiqul khoirat.

Allah swt berfirman :
"Dan bagi tiap tiap umat, ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam berbuat) kebaikan. Dimana saja kami berada Pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS. Al-Baqarah : 148)

"Mereka beriman kepada Allah dan hari penghabisan, mereka menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang mungkar dan bersegera dalam (mengerjakan) kebajikan ; mereka itu termasuk orang orang yang sholeh. " (QS. Ali Imran 114)

Rasulullah saw pun melalui lisannya bersabda :
"Bersegeralah beramal sebelum datangnya rangkaian fitnah seperti sepenggalan malam yang gelap gulita, seorang laki laii diwaktu pagi mukmin dan diwaktu sore telah kafir. Dan diwaktu sore beriman diwaktu pagi kafir. Ia menjual agama-Nya dengan kesenangan dunia."(HR Ahmad)

Fitnah disini tak hanya sebatas mengatakan hal yang tak org lain lakukan. Harta dan tahta yang melalaikan juga fitnah. Pekerjaan yang melenakan juga fitnah. Dan segala hal lain yg menjadikan kita lalai untuk bersegera mengrjakan kebaikan.

Terkadang kita merasa terbebaskan dgn tdak segera menuju kebaikan . Ketika peluang amal dtg dn berlalu bgtu sja tnpa ada diri kita kita biasa aja . Seolah tak pernah terjadi apa apa atau tak pernah terbuka kesempatan untuk segera bersegera mengerjakan kebajikan.

Lantas pertanyaan nya, knapa kita tak boleh meninggalkan peluang kebajikan dan diperintahkan untuk segera melakukn amal kebaikan ? Kenapa ?

Maka kembali pikirkan dan fokuskan pikiran kita untuk membangunkan hal mgkin yg juga sudah mulai kita lupakan.

Segeralah menuju kebaikan karena aset waktu yg kita punya , hanya saat ini saja. Masa lalu hanya bisa diingat , kita kenang dan tak akan mgkin bisa kita bawa kembali ke masa kini. Ia juga tak bisa diubah lgi . Sedangkan masa depan ,kita tak pernah tau karna waktu itu adalah hak preogratif Allah. Jangan sampai kita mewarnai hidup kita dgn penyesalan penyesalan karena lalai memanfaatkan waktu.

"Ada dua nikmat yg manusia srg lupa , nikmat sehat dan waktu luang." (Al hadist)

Bersegeralah beramal karena amal yg kita pikul tak mgkin dipikul org lain. Amal kita hanya akan dipikul oleh pundak kita sendiri. Amal kebaikan kita hanya akan dipikul pundak kita. Bukn mereka ! Begitu juga amal buruknya. Yanh akan memikulnya adalah pundak kita , bukan mereka ! Ingatlah, Setiap kita akan dimintai pertanggung jawaban masing masing .

Bersegeralah beramal Karena derajat kita dihadapan Allah berbanding lurus dgn cepatnya kita merespon perintah pada-Nya . Seberapa cepat kita mengambil peluang kebaikan, maka begitu juga derajat kita di hadap-Nya. Derajat terbaik adalah disaat respon yang kita tunjukkan untuk beramal cepat. Sedangkan , saat kita lengah dan santai membuang peluang kebaikan begitu saja , maka derajat yg kita terima pun akan sama halnya seperti yg kita tunjukan.

Bersegeralah beramal karena setiap waktu ada momentumnya sndiri. Setiap waktu sudah ada amalnya sndiri, yg bila kesempatan habis maka kita tak bsa mengerjakannya kembali.

"Kewajiban lbh banyak dripada waktu yg tersedia". (Hasan al banna)

Bersegeralah beramal karena kesempatan beramal jga diberikan kpda setiap kita. Setiap kita akan berada diposisi yang sama. Hanya saja, sang pemenang adalah mereka yang mampu bersegera lebih dulu dari mereka yang belum tergerak untuk menuju kebaikan .

Maka dari itu..
Jika peluang kebaikan ada dihadapan, maka lahaplah sampai tuntas sebagaimana kita makan dlm keadaan kelaparan. Sebagaimana Kita minum saat dahaga kekeringan . Tujulah ia, agar ruh kita tak lapar dan juga tak dahaga.

Jika peluang kebaikan terpampang didepan kita, maka ambil dan rengkuhlah ia dengan bersegera. Jangan berdiam diri , karena untuk menang kita harus cepat bersegera menujunya. Lebih dulu dari mereka yang juga punya kesempatan sama .

Jika ada ladang kebaikan , maka bersegeralah menujunya. Tanamlah sebanyak mungkin amal kebaikan yang bisa kita tanam. Sirami ia dengan ruhmu yang tak pernah padam untuk berburu duluan mengerjakan kebajikan. Bersemangatlah. Agar di akhirat, kebun kita akan berbuah dengan amal amal yang mampu hantarkan kita ke tempat terbaik disisi-Nya.

Semoga Allah senantiasa hidupkan gairah kita untuk terus bersegera dalam menuju kebaikan. Aku , kita , dan mereka semua . Aamiin :)

 
;